Laut Adalah Rumah, Darat Tempat Berpijak, Menyatukan Jejak untuk Masa Depan Bumi
Urgensi Pengelolaan Lanskap
Terpadu di Tengah Krisis Iklim dan Ketimpangan Pesisir Indonesia
Apa jadinya Indonesia tanpa laut? Tanpa
pesisir yang menjadi rumah bagi jutaan keluarga? Pertanyaan ini bukan sekadar
retorika, melainkan alarm yang makin nyaring di tengah krisis iklim dan konflik
ruang yang terus menggerus tapak hidup masyarakat pesisir. Pertanyaan ini bukan
sekadar retorika, melainkan peringatan yang makin nyaring di tengah krisis
iklim, konflik ruang, dan ketimpangan pengelolaan sumber daya. Ketika mentari
pagi menyibak kabut tipis di Teluk Berau, Kalimantan Timur, deru mesin kapal
nelayan mulai terdengar. Di tengah lautan yang tenang, masyarakat pesisir
memulai hari dengan harapan. Namun di balik kesibukan itu, terbentang tantangan
besar yang mengintai masa depan mereka: abrasi, pencemaran, konflik tata ruang,
dan ancaman hilangnya mata pencaharian.
Ketika mentari pagi menyibak kabut tipis di Teluk Berau, Kalimantan Timur,
seperti membuka tabir harapan yang perlahan pudar, deru mesin kapal nelayan
mulai terdengar. Di tengah lautan yang tampak tenang, masyarakat pesisir
memulai hari dengan harapan yang tak pernah padam. Namun di balik rutinitas
itu, terbentang tantangan besar yang mengancam masa depan mereka: kerusakan
pesisir, konflik tata ruang, dan ketimpangan pengelolaan sumber daya alam.
Sebagai negara kepulauan terbesar di
dunia dengan lebih dari 17.000 pulau dan garis pantai sepanjang lebih dari
108.000 kilometer, Indonesia adalah raksasa biru yang berdiri di persimpangan
peradaban. Di satu sisi, kekayaan laut dan daratnya luar biasa. Namun di sisi
lain, pengelolaan yang masih terkotak-kotak membuat raksasa ini pincang
melangkah.
Indonesia menghadapi kompleksitas dalam
mengelola lanskap darat dan laut secara berkelanjutan. Tata ruang pesisir dan
darat kerap dirancang secara terpisah, seolah keduanya tidak saling berkaitan.
Di Papua, misalnya, ekspansi perkebunan kelapa sawit di darat telah mencemari
perairan Teluk Bintuni. Sedimentasi meningkat, dan hutan mangrove yang menjadi
benteng alami terhadap abrasi terancam punah. Laporan WALHI tahun 2023
menunjukkan bahwa lebih dari 42% wilayah pesisir Indonesia mengalami degradasi
ekologis akibat ketidaksinkronan kebijakan darat-laut.
Kondisi serupa juga terjadi di pesisir
Sumatra, tempat abrasi pantai melahap rumah-rumah nelayan karena hutan mangrove
ditebangi demi tambak udang. Ironisnya, tambak tersebut sering kali dikuasai
investor besar tanpa memberikan kontribusi signifikan terhadap kesejahteraan
masyarakat lokal.
Lebih jauh lagi, integrasi terhadap
ketahanan iklim masih minim. Padahal, kawasan pesisir adalah garda terdepan
dalam menghadapi dampak perubahan iklim: naiknya permukaan laut, badai tropis,
dan gelombang tinggi yang menghancurkan infrastruktur serta mengganggu
penghidupan masyarakat.
Namun, di tengah bayang-bayang krisis,
benih harapan mulai tumbuh melalui berbagai inisiatif akar rumput dan kebijakan
berbasis data. Dalam Forum Bumi yang diselenggarakan Yayasan KEHATI dan
National Geographic Indonesia, berbagai narasumber menyoroti pentingnya
pendekatan terpadu dalam pengelolaan lanskap. “Kita perlu keluar dari
pendekatan silo—daratan dan lautan harus dipetakan dan dikelola sebagai satu
kesatuan biologis dan sosial,” ujar Tri Wibowo, ahli lanskap ekologis.
Sementara itu, Ibu Masnur, pegiat
ekowisata di Nusa Penida, berbagi pengalamannya dalam membangun pariwisata yang
berbasis konservasi. “Laut itu sekolah dan dapur kami. Ketika terumbu karang
rusak, kami tidak hanya kehilangan ikan, tapi juga kehilangan jati diri,”
ungkapnya dalam sesi diskusi interaktif.
Forum ini tidak hanya menjadi ruang
bicara, tetapi jembatan antara data saintifik, suara lokal, dan keputusan
kebijakan. Di sinilah media dan komunitas berperan sebagai penyambung nalar dan
nurani bangsa.
Solusi pengelolaan lanskap terpadu tidak
bisa sekadar di atas kertas. Diperlukan pendekatan lintas sektor yang kokoh,
berkelanjutan, dan inklusif. Beberapa langkah konkret yang dapat diambil antara
lain:
Pemerintah daerah perlu menyusun
pemetaan spasial yang menggabungkan ekosistem darat dan laut, termasuk kawasan
lindung, jalur migrasi satwa, dan wilayah tangkap nelayan tradisional.
Teknologi seperti drone dan citra satelit dapat dioptimalkan untuk menciptakan
peta partisipatif yang akurat.
Pemerintah pusat dan daerah juga perlu
menyusun rencana aksi lintas sektor yang mengintegrasikan blue economy dan
green infrastructure ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
(RPJMN).
Investasi harus berpihak pada masyarakat
lokal. Di Bali, proyek konservasi berbasis komunitas di Nusa Penida berhasil menumbuhkan
ekonomi alternatif melalui wisata bahari yang tidak merusak lingkungan. Para
nelayan kini menjadi pemandu selam dan pelestari terumbu karang.
Inisiatif dari komunitas perempuan
nelayan di Banyuwangi, Jawa Timur, membuktikan bahwa pelibatan perempuan dalam
pengambilan keputusan mampu meningkatkan efektivitas konservasi laut. Mereka
menjalankan program tabungan laut dan patroli terumbu secara swadaya.
Perencanaan tata ruang harus memasukkan
analisis risiko iklim. Tanggul alami dari vegetasi pesisir seperti mangrove dan
cemara laut lebih adaptif dan ekonomis dibanding betonisasi.
Di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur,
masyarakat adat Dayak dan komunitas nelayan telah berkolaborasi dengan LSM
untuk mengelola wilayah laut adat. Hasilnya, populasi penyu dan ikan karang
meningkat berkat sistem zonasi yang adil.
Sebagai seseorang yang tumbuh jauh dari
semilir angin laut dan deru ombak, saya baru menyadari bahwa pesisir bukan
sekadar garis batas, melainkan garis kehidupan. Saat pertama kali menyaksikan
bagaimana komunitas nelayan berjuang menjaga ekosistemnya, saya memahami bahwa
laut bukan sekadar bentang biru di peta—ia adalah dapur, ruang belajar, bahkan
tempat ibadah bagi banyak warga pesisir.
Forum Bumi menjadi cermin bahwa suara
komunitas, sains, dan media bisa bersatu. Tidak ada lagi ruang untuk kebijakan
yang berjalan sendiri tanpa mendengar suara arus bawah. Tidak ada lagi waktu
untuk menyalahkan satu sektor atas kerusakan yang kita alami bersama.
Kita selama ini membicarakan konservasi seolah hanya soal menjaga
keanekaragaman hayati. Padahal, di dalamnya ada keadilan sosial, budaya, dan
hak hidup masyarakat adat dan pesisir yang kerap tak punya suara.
Kini, bukan lagi saatnya menunda. Masa
depan Indonesia ada di laut dan di darat—dua lanskap yang tidak boleh dibiarkan
retak oleh sekat kebijakan. Mari bersatu, mengelola bumi tempat kita berpijak
dan rumah tempat kita kembali. Sebagai generasi muda, kita tak bisa hanya jadi
penonton saat bentang alam negeri ini digerus ketidakadilan tata ruang. Forum
Bumi menyadarkan saya, bahwa merawat laut dan darat bukan hanya soal
konservasi, tapi juga soal keadilan antargenerasi. Jika kita gagal menjembatani
dua lanskap ini hari ini, kita tengah membiarkan generasi mendatang kehilangan
pijakan dan arah.
Referensi:
- KEHATI & National Geographic Indonesia. (2025). Forum Bumi: Dialog Sains, Komunitas, dan Kebijakan.
- Kementerian Kelautan dan Perikanan. (2024). Statistik Kelautan dan Perikanan Nasional.
- Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI). (2023). Laporan Dampak Perubahan Iklim di Kawasan Pesisir.
- Yayasan Reef Check Indonesia. (2023). Studi Konservasi di Nusa Penida.
- Mongabay Indonesia. (2024). “Perempuan Penjaga Laut di Banyuwangi.”
- Nurhidayah, L. (2021). Integrated Coastal Zone Management in Indonesia: Gaps and Opportunities. Journal of Environmental Policy, 14(2), 121-137.
·
Komentar
Posting Komentar